Keyword
SEGENAP KELUARGA BESAR SMA NEGERI 15 SEMARANG MENGUCAPKAN ...*** SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA***....
SENIN, 20 AGUSTUS 2018
Artikel
Bertemu dengan Bulan Ramadan
Ditulis tanggal : 25 - 05 - 2018 | Pukul :

Sebagai manusia yang taat, kewajiban kita kepada Ilahi adalah memanjatkan rasa syukur kepadaNya. Mengingat sebagai hamba yang tak berkuasa, bisa saja kita tidak dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan di tahun ini. Tetapi berkat kasih sayang Allah dan kuasaNya, kita bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadan.

Kenikmatan yang Allah berikan kepada hambanya, khususnya yang masih hidup dan masih bisa bernafas, menghirup udara bebas, merupakan salah satu nikmat besar dariNya yang patut menjadikan kita tambah ingat kepadaNya, serta menambah kualitas ketaqwaan kita kepadaNya. Sekaligus dengan langkah siap dan tegap untuk meraih kesempatan serta meraih berbagai kebaikan dan keberuntungan yang telah disediakan oleh Allah di dalam bulan Ramadan.

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan, dibandingkan bulan-bulan yang lain. Keistimewaan yang ada pada bulan Ramadan, seperti rahmatNya bertebaran di mana-mana, ampunan terbuka lebar-lebar, pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu, serta pahala dilipatgandakan. Berkah yang sangat besar pada bulan Ramadan menjadikan umat Islam semakin rajin beribadah.

Semakin kita beribadah di bulan Ramadan, maka kualitas hidup kita akan semakin bermakna di hadapan Allah. Meski di dalam bulan Ramadan beranekaragam cara kita dalam menyambutnya dan melakukan berbagai bentuk kegiatan, tapi yang paling pas dijadikan teladan dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadan adalah mengamalkan amalan-amalan Rasulallah, para sahabatNya dan salafus shalih.

Marhaban ya Marhaban
Datangnya Ramadan, tidak terlepas dari kalimat “Marhaban Ramadan” yang biasa kita dengar di pelbagai sudut mana pun. Banyak kaum Muslimin yang mengungkapkannya, tatkala menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Makna dari kalimat tersebut adalah adanya ”rasa senang, gembira, dan bahagia” dalam hati kita yang mengaku orang Islam, dengan datangnya bulan suci Ramadan. Perasaan senang, gembira, dan bahagia karena bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadan.

Sebagai bulan yang istimewa, Ramadan adalah bulan yang menjadi candu bagi umat Islam, bulan yang selalu di dambakan oleh umat Islam. Pelbagai harapan kerap muncul dan bertebaran saat memasuki bulan Ramadan.

Ramadan akan membawa berbagai kebaikan dan keberuntungan yang tidak terhingga nilainya, dengan catatan bagi siapapun yang mau mengamalkan amalan saleh di bulan suci Ramadan ini. Setidaknya kebaikan yang ada dalam bulan suci Ramadan antara lain adalah melalui ibadah puasa Ramadan kita akan meraih takwa sesungguhnya. Sebagaimana dalam firman Allah Swt. di dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 183; Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”

Melihat maksud arti ayat di atas, menunjukkan bahwa keberuntungan pertama yang akan didapatkan kita dengan kedatangan bulan Ramadan adalah menjadi orang bertakwa melalui ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadan. Dan jika seseorang telah menjadi orang bertakwa, berarti ia telah memiliki sebuah kunci utama untuk meraih berbagai keberuntungan dan dengan mudah memasuki surga Allah Swt.

Ramadan adalah bulan yang di dalamnya setiap kebaikan atau amal shaleh yang dilakukan setiap Muslim yang berpuasa, akan mendapatkan pahala berlipat-lipat banyaknya yang diberikan Allah Swt. kepada siapapun yang Allah ridhai puasanya. Sebetulnya secara substansi, karena bulan Ramadan penuh dengan pemberian yang Allah janjikan kepada kita semua, maka sangat rugi bila kita tidak mau berbondong-bondong berbuat baik. Tetapi kembali lagi, berbuat baik tidak harus menunggu bulan suci, di bulan-bulan lain pun sah-sah saja untuk mengamalkan amalan saleh.

Banyaknya investasi pahala di bulan puasa, memberikan stimulus bagi kita untuk selalu mengerjakan amalan saleh di setiap gerak-gerik kita. Walaupuan ada kuantitas kesalehan, baik individu maupun sosial tak sebanding dengan kesalehan selama Ramadan. Hal itu terjadi karena pada bulan Ramadan segala amal saleh dilipat gandakan dan dikuadratkan dengan nilai lebih. Perburuan pahala yang menggiurkan bagi orang awam jelas diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “Puasa itu milikku (Tuhan) dan hanya Aku jua yang akan membalasnya.”

Pengakuan Tuhan bahwa puasa itu adalah miliknya menunjukkan terjadi pengistimewaan pada bulan ini. Seolah pengakuan itu tidak boleh ada pihak lain yang ikut campur. Artinya, hanya Allah yang punya kehendak terhadap apa saja yang hamba lakukan pada bulan suci Ramadan. Dari latar belakang tersebut, umat Muslim semakin yakin dengan kehebatan bulan suci Ramadan, sehingga mau tidak mau, jangan sampai keistemewaannya terlupakan begitu saja dan tidak digubris sama sekali akan wujudnya dalam berbagai dimensi.

Membentuk Pribadi Tangguh
Oleh karena itu, momentum Ramadan di tahun ini hendaknya dijadikan satu ikhtiar untuk membentuk pribadi tangguh, berkarakter, yang darinya bisa memiliki kemampuan untuk mewujudkan masyarakat salam, yaitu satu masyarakat yang penuh dengan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan, dapat diimplementasi dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, sebagaimana nyatanya peradapan Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw. Akhirnya, bisa merubah zaman “jahiliah modern” seperti sekarang ini, menjadi zaman modern yang beradab.

Sesungguhnya esensi puasa tak sekadar berdimensi hubungan vertikal hamba dengan Khaliknya. Tapi, juga harus berdimensi kemanusiaan, yaitu sebuah ghiroh (semangat) untuk mewujudkan peradaban mulia ketika seluruh masyarakatnya mampu merasakan kedamaian dan mendapatkan kesempatan yang sama dalam kesejahteraan. Hal ini bisa tercipta bila kaum Muslim semunya memiliki keihklasan untuk berbagi, bersikap saling memaafkan, membuka pikiran, sikap, serta perilaku untuk berbuat baik dan meninggalkan segala kelalaian yang berujung pada kesalahan. (*)



Oleh: Nanang Qosim
Guru PAI dan Budi Pekerti SMA Negeri 15 Semarang